30 Oktober, 2013

Makanan & Harganya


Saya mendefinisikan makanan dan harganya ada beberapa jenis…

  1. Makanan rasanya enak dan harganya mahal itu biasa
  2. Makanan rasanya tidak enak dan harganya murah itu juga biasa
  3. Makanan rasanya enak dan harganya murah,  itu luar biasa 
  4. Makanan  rasa seadanya dan harga seenaknya. Hehe..  ini  susah  untuk diterima… 

Makanan yang nomor 3, biasanya kita temui jika warungnya ramai, dan lokasinya berada di tempat yang biasa, dan pengunjungnya orang kebanyakan.

Tapi makanan yang nomor 4, terkadang kita temui di tempat yang ga jelas, tempat istirahat mobil di luar kota, lokasi  tempat wisata …



16 Oktober, 2013

Teman SD

Siang tadi terima telpon. Si penelpon pake bahasa Padang..

Penelpon       :  eh .. iko widi yang dulu di SD 60 Padang yo?
Widi                 :  iyo..
Penelpon         :  masih ingek samo ambo ndak?  kawan SD dulu
Widi                 :  aduh..  sia yo?
Penelpon         :  yang badan gadang, yang paliang gemuk…
Widi                 :  sia  yo..???
Penelpon         :  Nurwin !
Widi                 :  Ooo iya,  masih ingat.  Nurwin yg bapaknya julan sate padang ya !!

Kemudian kami chit-chat sambil  mengingat memori  30 tahunan silam…

Kemudian sampai pada percakapan …

Nurwin             : Wid.. masih ingat ga teman kita si Rusdi
Widi                 : yang mana ya?
Nurwin             : itu lho….  yang pup dalam celana di kelas…
Widi                 : oo.. oiya.. iya masih ingat…   hahaha … yang gituan masih aja diingat.




Moral Story  : Kadang untuk mengingat seseorang, diperlukan cerita lucu dan memalukan.

25 November, 2011

Scooters BMW C 600

Semenjak 1 tahun belakangan ini jadi pemakai skutik, jadi semakin suka dengan motor matic ini. Jakarta yang supermacet memang enaknya pake motor matic. Tinggal ngegas doang tanpa perlu pusing lagi dengan oper-oper gigi. Makanya gak salah penjualan motor matic di Jakarta udah ngalahin motor bebek dan sport.

Tapi kalau lihat Scooters BMW C 600 sport baru ini, jadi naksir juga. Jadi pengen punya.

17 November, 2011

Kabar Keabadian

Imam Ibnul Jauzi*

Demi Allah, saya membayangkan masuk surga dan selamanya berada di sana, tanpa sakit, tanpa meludah, tanpa tidur, tak ada penyakit mewabah, dan selalu sehat. Kebutuhan selalu terpenuhi. Kenikmatan silih berganti setiap saat tiada batas. Hampir saya tidak percaya jika syariat tidak menjabarkan dengan jelas dan gamblang keadaan surga.

Perlu disadari bahwa seluruh kedudukan yang akan dicapai di sana sangat tergantung pada kerja keras setiap orang di dunia. Adalah aneh jika banyak orang yang menyia-nyiakan setiap detik waktunya dengan meiakukan hal-hal yang tiada berguna. Sebenarnya, satu tasbih atau pujian kepada Allah saja akan merupakan tanaman kurma dalam surga yang buahnya bisa dimakan sepanjang zaman. Wahai orang yang khawatir kehilangan itu semua, teguhkanlah hati Anda untuk selalu berharap surga.

Wahai orang-orang yang selalu resah dengan datangnya maut, bayangkanlah rasa getir kematian setelah Anda dikaruniai kesehatan. Sesungguhnya, sejak roh Anda dicabut, bahkan sebelum roh itu dicabut, tersingkaplah kedudukan manusia nanti di akhirat.

Akan sangat ringanlah manusia yang telah tersingkap baginya kelezatan yang akan segera ia alami. Ingatlah oleh Anda bahwa rasa takut akan datang saat ajal menjelang. Bersegeralah beramal sebelum sang umur tenggelam dan tak lagi bisa menemani dalam perjalanan abadi.

Merenunglah dan berusahalah melihat perjalanan hidup orang-orang yarig sungguh-sungguh dalam menghadapi kehidupannya. Itu akan banyak memberikan dorongan bagi pikiran untuk memperoleh keutamaan dan taufik. Perlu Anda ketahui juga, andaikata Dia menginginkan sesuatu untuk Anda, pasti Dia akan menyediakannya.

Adapun berteman dan bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu kabar keabadian dan hanya tahu kabar-kabar dunia merupakan sebab utama timbulnya peryakit hati. Oleh karena itu, menjauh dari keburukan-keburukan semacam itu adalah tindakan pencegahan yang akan membuahkan keselamatan.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang tentang kehidupan akhirat mereka lalai” (Ar-Ruum: 7)

فطنٍ بكل مصيبة في ماله
وإذا يصاب بدينه لم يشعر

"ia sangat perasa akan musibah yang menimpa hartanya,
namun tidak sadar tentang musibah yang menimpa agamanya"


*dikutip dari kitab "Shaidul Khathir"

14 Oktober, 2011

Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Haji

Oleh: Syekh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi

Haji adalah salah satu ibadah dari sekian banyak ibadah, mempunyai rukun, hal-hal yang wajib dan hal-hal yang sunnah.

Rukun-Rukun Haji

1. Niat
Berdasarkan firman Allah SWT: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS Al-Bayyinah: 5).

Dan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.”

2. Wukuf di Arafah
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i, dan Abu Dawud).

3. Menginap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan shalat Shubuh di sana
Berdasarkan sabda Rasulullah kepada Urwah, “Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah), lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i).

4. Thawaf Ifadhah
Berdasarkan firman Allah SWT: “…Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS Al-Hajj: 29)

Dan dari Aisyah RA, ia berkata, “Shafiyah binti Huyay mengalami haidh setelah merampungkan thawaf Ifadhah.” Lalu ia berkata lagi, “Kemudian hal tersebut aku beritahukan kepada Rasulullah SAW, beliau pun bersabda, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?” “Wahai Rasulullah, ia telah thawaf Ifadhah, ia telah thawaf mengelilingi Ka’bah lalu haidh setelah thawaf Ifadhah,” jawabku. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau begitu kita berangkat.” (HR Muttafaq Alaih)

Sabda beliau, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?” menunjukkan bahwa thawaf ini harus dikerjakan. Thawaf ini dapat menghalangi kepergian orang yang belum melaksanakannya.

5. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Berdasarkan sa’inya Rasulullah SAW dan sabda beliau, “Kerjakanlah sa’i, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.” (HR Ahmad, Hakim)

Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Haji

1. Berihram dari miqat-miqat
Yaitu dengan melepas pakaian dan mengenakan pakaian ihram, kemudian niat dengan mengucapkan, “Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah umrah.”

Atau, “Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.”

2. Bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq
Hal ini karena Rasulullah SAW bermalam di sana. Beliau memberi keringanan bagi penggembala unta di Baitullah, mereka melontar pada hari Nahr (hari raya kurban), sehari setelahnya, lalu dua hari setelahnya dan pada hari mereka menyelesaikan ibadah haji (nafar). Rasulullah memberi keringanan kepada mereka, ini merupakan dalil akan wajibnya hal ini bagi yang lainnya.

3. Melempar jumrah secara tertib
Yaitu dengan melempar jumrah Aqabah pada hari Nahr menggunakan tujuh kerikil, lalu melempar ketiga jumrah pada hari-hari tasyriq setelah matahari tergelincir. Setiap jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dimulai dengan jumrah Ula kemudian jumrah Wustha dan diakhiri dengan jumrah Aqabah.

4. Thawaf Wada’
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas RA. “Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya dengan thawaf di Baitullah, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh.” (HR Muttafaq Alaih).

5. Mencukur rambut atau memendekkannya
Mencukur dan memendekkan rambut disyariatkan, baik dalam Alquran, sunnah maupun ijma’.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut…” (QS Al-Fath: 27).

Dari Abdullah bin Umar bahwasannya Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdoa lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdoa lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdoa lagi, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya.”

Jumhur ulama berselisih pendapat akan hukum mencukur atau memendekkan rambut ini. Sebagian besar dari mereka berpendapat hukumnya wajib, orang yang meninggalkannya wajib membayar dam (denda), sedangkan ulama madzhab Syafi’i berpendapat mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu di antara rukun-rukun haji. Faktor yang membuat mereka berselisih pendapat adalah karena tidak adanya dalil yang menguatkan pendapat yang pertama maupun yang kedua, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Al-Albani.

Syarat-Syarat Thawaf
Dari Ibnu Abbas RA bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Thawaf mengelilingi Ka’bah seperti shalat, namun dalam thawaf kalian boleh berbicara. Barangsiapa yang berbicara ketika thawaf hendaklah ia berbicara dengan perkataan yang baik.” (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ad-Darimi, Baihaqi).

Jika thawaf itu seperti shalat, maka disyaratkan hal-hal sebagai berikut:
1. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan besar).
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci).”

Juga berdasarkan sabda beliau kepada Aisyah yang haidh pada saat haji. “Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji, hanya saja engkau tidak boleh thawaf di Baitullah sampai engkau mandi (bersih dari haidhmu).” (HR Muttafaq Alaih)

2. Menutup aurat
Berdasarkan firman Allah SWT: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…” (QS Al-A’raf: 31).

Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasannya Abu Bakar ketika haji yang mana dalam haji itu ia diangkat sebagai amir oleh Rasulullah, sebelum haji Wada’. Beliau mengutus Abu Hurairah bersama beberapa orang pada hari raya kurban untuk mengumumkan kepada orang-orang. Setelah tahun ini orang musyrik tidak boleh berhaji, dan tidak boleh thawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. (HR Muttafaq Alaih).

3. Thawaf sebanyak tujuh putaran sempurna
Hal ini karena Rasulullah SAW thawaf tujuh kali, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar, “Setelah tiba, Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kemudian beliau shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim dan sa’i antara Shafa dan Marwah tujuh kali. Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada contoh yang baik bagimu.”

Amalan Rasulullah ini merupakan penjelasan dari firman Allah SWT: “…Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS Al-Hajj: 29).

Apabila ia meninggalkan sedikit saja dari tujuh putaran itu, thawafnya tidak sah. Jika ia ragu hendaknya ia mengambil kemungkinan yang paling sedikit agar ia menjadi yakin.

4. Memulai dan mengakhiri thawaf di Hajar Aswad dengan menempatkan Ka’bah di sebelah kiri
Berdasarkan hadits Jabir RA, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Makkah, beliau mendatangi Hajar Aswad dan mengusapnya, kemudian beliau melangkah ke arah kanan, beliau thawaf dengan berlari-lari kecil tiga putaran dan berjalan biasa empat putaran.”

5. Thawaf di luar Ka’bah
Hal ini karena firman Allah SWT: “…Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS Al-Hajj: 29).

Menunjukkan thawaf harus mengitari seluruh Ka’bah. Seandainya seseorang thawaf dan lewat di dalam Hijir Ismail, maka thawafnya tidak sah, berdasarkan sabda Rasulullah, “Hijir Ismail termasuk Ka’bah.”

7. Berturut-turut (tidak terputus)
Hal ini karena Rasulullah thawaf berturut-turut dan beliau bersabda, “Ambillah dariku manasik hajimu.”

Jika thawaf diputus untuk berwudhu atau menunaikan shalat wajib ketika iqamat sudah dikumandangkan atau untuk istirahat sejenak, maka boleh melanjutkan thawaf (tidak perlu mengulang). Jika diputus lama, maka thawaf diulang lagi dari awal.

Syarat-Syarat Sa’i
Untuk sahnya amalan sa’i disyaratkan hal-hal sebagai berikut:
1. Hendaknya dilakukan tujuh kali
2. Hendaknya dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah
3. Hendaknya sa’i dilakukan di Mas’a, yaitu jalan yang menghubungkan antara Shafa dan Marwah

Berdasarkan amalan Rasulullah saw dan sabda beliau, “Ambillah dariku manasik hajimu.”

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Disarikan dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawai Al-Khalafi. Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA-Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.

10 Oktober, 2011

Al-Waqi'ah (Kejadian Yang Dahsyat)

  1. Apabila terjadi hari kiamat,
  2. Tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.
  3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),
  4. Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
  5. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,
  6. Maka jadilah ia debu yang beterbangan,
  7. Dan kamu menjadi tiga golongan.
  8. Yaitu golongan kanan . Alangkah mulianya golongan kanan itu.
  9. Dan golongan kiri . Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
  10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu,
  11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
  12. Berada dalam jannah keni'matan.
  13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
  14. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian
  15. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata,
  16. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.
  17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
  18. Dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,
  19. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
  20. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih,
  21. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.
  22. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
  23. Laksana mutiara yang tersimpan baik.
  24. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.
  25. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,
  26. Akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.
  27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.
  28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
  29. Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
  30. Dan naungan yang terbentang luas,
  31. Dan air yang tercurah,
  32. Dan buah-buahan yang banyak,
  33. Yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.
  34. Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
  35. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
  36. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
  37. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.
  38. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,
  39. (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.
  40. Dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.
  41. Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
  42. Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,
  43. Dan dalam naungan asap yang hitam.
  44. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
  45. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.
  46. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.
  47. Dan mereka selalu mengatakan: "Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?,
  48. Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (juga)?"
  49. Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian,
  50. Banar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal.
  51. Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,
  52. Benar-benar akan memakan pohon zaqqum,
  53. Dan akan memenuhi perutmu dengannya.
  54. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.
  55. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum.
  56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan".
  57. Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan?
  58. Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
  59. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?
  60. Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
  61. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
  62. Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
  63. Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
  64. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?
  65. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang.
  66. (Sambil berkata): "Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian",
  67. Bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.
  68. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.
  69. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?
  70. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?
  71. Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu).
  72. Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?
  73. Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.
  74. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.
  75. Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur'an.
  76. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.
  77. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia,
  78. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
  79. Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
  80. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.
  81. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur'an ini?
  82. Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.
  83. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
  84. Padahal kamu ketika itu melihat,
  85. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat,
  86. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) ?
  87. Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?
  88. Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
  89. Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah keni'matan.
  90. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,
  91. Maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan.
  92. Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat,
  93. Maka dia mendapat hidangan air yang mendidih,
  94. Dan dibakar di dalam jahannam.
  95. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.
  96. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.